[CHENFFI Birthday] Impian Pak Tua

Impian Pak Tua by l18hee.jpg

Impian Pak Tua

EXO’s Jongdae | OC’s Arin

Ficlet | AU | OOC | Family | Romance | Sad | Tragedy | T

.by l18hee

.

Impian Jongdae tua, sederhana kok.

.

“Arin.”

Kim Jongdae yang semula sibuk menenggelamkan diri dalam acara berita yang membahas tentang hal kriminal di sela gang kota, kini mengalihkan atensi pada istrinya yang baru saja menuntaskan piring kotor terakhir bekas sarapan mereka.

“Hmm?” Gumaman tanya Arin lakukan, ia menggosokkan tangan di celemeknya. Baru saja wanita paruh baya tersebut akan melepas celemek, suara Jongdae terdengar kembali.

“Dia memintaku untuk mati.”

Yang Arin lakukan adalah menambatkan pandangan pada sosok Jongdae, “Siapa?” Ia berkata seolah tahu apa yang tengah Jongdae rasakan sekarang. Napasnya sempat terhenti sesaat, namun oksigen dapat menyambah paru-parunya kembali sekian sekon kemudian. “Kim Jongdae?” tandasnya lagi tatkala Jongdae tak menyuguh jawaban.

“Tidak tahu.” Menggeleng frustasi, Jongdae menyentuh dahinya. “Terus terngiang─” pria tiga perempat abad ini menyentuh telinganya, sedikit mengeryit. Ada kegelisahan kuat yang ia rasa, seakan hitam yang ada begitu pekat memeluknya. Namun sebuah sentuhan pelan menangkup tangan Jongdae sepersekian sekon kemudian.

“Jangan hiraukan.” Senyum Arin di sana. Wanita ini lantas mengusap pundak sang suami, “Kau bilang akan bercukur, bukan?”

Jongdae segera tersadar. Ia lalu menggenggam sesaat telapak Arin, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya, “Aku akan pergi sekarang.”

“Aku bisa mengantar─”

“Tidak,” Jongdae menggeleng, “Tidak pelu. Aku tidak lama, sungguh.”

“Baik, baik, aku tidak akan ikut.” Sepertinya Arin tahu bagaimana cara mengatasi Jongdae yang ini. Didekatinya sosok Jongdae, kemudian tangannya terulur masuk dalam kantung celana si pria, “Sebagai gantinya, biarkan aku menyimpan ini, oke?” Ia sekarang menggenggam sebuah pisau lipat sederhana yang semula bersarang di saku terdalam suaminya.

“Aku butuh itu.”

“Lalu, biarkan aku ikut.”

.

.

.

“Selamat pagi. Wah, apa kalian sengaja membuatku iri dengan datang bersama begini?” Senyum hangat seorang pria dengan rambut hampir botak menyambut, ketika dua pasang kaki menyambah salah satu gedung tua pinggir kota.

“Wu Yifan, berhenti menggoda dan segeralah bersihkan wajah suamiku ini.” Dorongan pelan dirasakan Jongdae. Sebagai pelaku, Arin hanya memasang wajah santai walau suaminya terlihat tidak begitu bersemangat.

Selanjutnya, seperti layaknya kegiatan mencukur beberapa bulu halus di wajah pada umumnya, Jongdae pertama-tama duduk di sembarang kursi. Membiarkan Yifan menyelimutinya dengan baju khusus. Detik-detik sesudahnya Yifan sudah sibuk dengan pekerjaannya; membersihkan jenggot tipis sang pelanggan, menyisirnya, dan mulai mengoleskan krim cukur.

Ketika menatap bayangnya pada cermin, Kim Jongdae tenggelam dalam dirinya. Oh, lihat siapa yang duduk dengan wajah super putus asa di depan sana? Satu, dua pertanyaan yang Yifan layangkan, tapi tak satu pun yang menarik Jongdae melempar jawaban. Pada akhirnya Arin-lah yang berinisiatif menanggapi obrolan Yifan. Sementara Jongdae, lebih memilih tenggelam dalam pemikirannya.

Selama ini, Jongdae sadar betul dirinya tidak begitu berguna. Seringnya hanya menyusahkan Arin saja. Dimulai dari pekerjaan yang berkali-kali harus berganti. Beberapa alasan positif coba disusun oleh Arin ketika Jongdae mencoba melontar berjibun pemikiran yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Sebagai seseorang yang kini hanya hidup bersama sang istri, Jongdae yang tidak punya pekerjaan yang lebih layak dari sekadar tukang parkir supermarket, seketika merasa menyedihkan. Di mana janji yang pernah ia lontar untuk menarik Arin ke sisinya? Saat ini semuanya hanya terlihat sebagai janji kosong belaka.

Ingin rasanya Jongdae menyalahkan diri terus-menuerus. Beberapa kali ia mencoba melepas Arin untuk kebahagiaan wanita itu. Nyatanya Arin tetap bersikukuh menggenggam tangannya. Jongdae tak mengerti, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun jika Arin enggan mengenyahkan diri.

Sampai suatu ketika, Jongdae menemukan pemikiran yang semakin lama semakin melekat di otaknya. Pemikiran bahwa, jikalau Arin tidak mau pergi, mengapa tidak Jongdae sendiri yang mencoba pergi?

Dan kemudian dimulailah beberapa percobaan main-main dengan nyawa oleh Jongdae. Pertama kali Jongdae menggunaan cara-cara klasik, seperti mencoba gantung diri dan menyeberang jalan besar dengan tidak melihat kanan-kiri. Sayangnya Arin lebih cepat bergerak dari yang dikira. Wanita yang dulunya senang sekali menghabiskan waktu untuk bereksperimen ria semakin lama berpindah lebih perhatian pada suaminya.

Umur Jongdae beranjak makin tua, seiring dengan itulah keinginannya untuk pergi karena merasa jadi orang paling tidak berguna terus menguat. Suara-suara remeh yang memintanya untuk mengakhiri hidup agar tidak terlalu lama menjadi beban hidup orang lain─tambahan, suaranya super jelek dan terkesan mengejek. Berkali-kali Arin mencoba berbicara padanya, mengatakan jika semua hal di dunia ada sisi positifnya. Faktanya, Jongdae sama sekali tidak bisa menerima walau kepalanya ikut mengangguk ketika sebuah persetujuan diminta.

Suara kekeh Arin yang menguar akibat lelucon tua Yifan menyambah rungu Jongdae. Sesaat yang sedang duduk di kursi cukur mendengarkan, sesaat selanjutnya kembali mengembuskan napas berat. Percobaan menelan banyak pil tidurnya terakhir kali tidak begitu berjaan mulus, apa ada hal lain yang terlihat bagus untuk dicoba?

“Hey, bung, kalau kuperhatikan, kau terlihat suram sekali hari ini.” Pada akhirnya, Yifan tak bisa menahan heran. “Padahal kemarin kau baru saja tersenyum ceria setelah membelikan istrimu keranjang buah baru.”

“Aku tidak melakukannya.” Jongdae merasa tersindir, atau setidaknya begitu ekspresi yang ia munculkan. Membuat kerut di dahi Yifan bertambah. Sebelum sebuah tanya lagi terdengar, Arin sudah menyela, “Yifan, jangan goda suamiku.” Lantas Yifan terkekeh, “Oh, baik, baik. Lihat siapa yang sedang malu di sini?”

Masa bodoh. Jongdae malah semakin merasa tak berguna karena tak pernah memberikan istrinya sesuatu. Kenapa semua hal di dunia terasa begitu tidak adil? Semua layaknya berjalan di atas jalanan penuh lubang dalam; tak pernah mulus. Bukankah dari semua kesuraman itu harusnya Jongdae menyerah saja? Toh juga ia sudah tua. Jadi cara apa lagi yang harus ia coba?

Ia melirik pisau cukur yang Yifan gunakan.

Ah, iya.

Tangan Jongdae bergerak diam-diam menuju kantung celananya. Dan─wow, kabar gembira!

Pisau lipatnya masih ada.

Ketika suasana berubah drastis berkat Yifan yang menyadari gelagat aneh Jongdae, Arin sudah memasang wajah panik; menekan kuat goresan dalam yang dibuat sang suami di pergelangan tangan. Sementara Jongdae memasang lengkung kurva menyedihkan dalam diam.

.

.

.

.end

Aku Gak tau ini akhirnya Jongdae berhasil bunuh diri apa engga wkwk Digantungin aja deh ya/ditabok/

Btw KakArin mana KakArin? Ciye yang kubuat OOC, maapin kak, aku dipaksa/nid/

Btw lagi…

SELAMAT ULANG TAHUN CHENFFI ❤ SEMOGA MAKIN MAJU KEDEPANNYA

Semoga staff-nya juga makin akrab dengan dimunculkannya event anniv ini :3

Sebagai author jarang update (maafin :’() aku bakal berusaha lebih baik lagi ❤

.nida

7 respons untuk ‘[CHENFFI Birthday] Impian Pak Tua

  1. Aku lupa tadi nyampe bagian mana. Ada beberapa bagian cerita ini yang belum kubaca. Ternyata silence(d) bagian dari DIDnya Chen.

    Dan ini? Astaga. Orang tua kesepian. Terus dirundung rasa bersalah. Entah kenapa aku dapet banget rasain perasaannya Chen di sini.

    Dia mati? Aku rasa, sih, iya 😂🔫
    Btw… aku masih susah bayangin Jongdae yang ubanan terus keriput /plak/

    Suka

  2. setelah jongde berkelana dengan berbagai kepribadian akhirnya dia bunuh diri juga.. 😦
    sedih banget masa, inisih bisa disebut sad ending dari segala perjalanan hidup yang panjang.. :”(

    Suka

  3. ini nih satu topik yg bikin aku lemah: org tua kesepian T.T kamu sukses banget bikin dianya depression gini haaa bapak tua carilah cucumu dan minta mereka temenin kamu T.T
    eksekusi jongdae sebagai org tua ternyata sukses besar, ga kusangka, aku masih susah lho padahal nulis ff kpop dan membuat mereka tua T.T
    gr8 job! keep writing nida!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s